Hujan lebat-lebat, kambing biri-biri

You’d never know the value of what you have, until you no longer have them.

Di luar sana, hujan turun dengan lebatnya. Tidak ada petir atau guruh, hanya hujan pagi selepas subuh yang membasahi bumi dengan selebat-lebatnya. Buat pertama kali dalam hidupku, aku benar-benar terpersona dengan dingin pagi, air deras yang turun dari langit dan angin sepoi-sepoi bahasa yang memercik gerimis hujan ke wajahku yang duduk di balik langsir.

Kalaulah tidak kerana pengalaman berpuasa di padang pasir yang kering kontang terutama sekali pada musim panas, yang suhunya mencecah 50 darjah selsius, tentu sekali hujan yang turun dengan lebat pada pagi ini tidak membawa apa-apa makna kepada diriku. Hanya hujan. Selalu rasa hujan. What’s the big deal kan?

Tetapi, sekarang lain ceritanya. Selama 40 hari lamanya aku tidak merasai hujan. Pada masa itulah aku mula merindui sesuatu yang amat berharga buat diriku, namun tidak pernah pula aku mempedulikannya. Something I usually take for granted for. A simple rain. Not any more.

Alhamdulillah for this rain. (and for all the other blessings YOU have bestowed upon me, which I have taken for granted for, and I am really sorry for that)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s